Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerita Jogja

Cerita Jogja
Oleh : Mieny Angel

Di mana pun nantinya aku berada, aku akan tetap mengingat tanah kelahiranku, Jogja. Mungkin sebentar lagi aku akan terbang ke negeri yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya. Namun semuanya itu bukan karena aku hendak meninggalkan Jogja tapi karena aku hendak melanjutkan pendidikanku yang lebih tinggi. Jogja memang gudangnya universitas, Jogja kota pelajar, namun beasiswa yang kuterima tak mungkin aku sia-siakan. Terlebih, aku butuh waktu sendiri untuk melupakan seseorang.

Kepada Hujan Ku Kirim Rindu


Kepada Hujan Ku Kirim Rindu

Oleh : Mieny Angel


Lagi, hujan membasahi pelataran rumahku. Dari balik kaca jendela aku dapat menyaksikan butiran kristal air yang saling berjatuhan. Bebas, luruh, jatuh meresap ke tanah, menguap jikalau mentari muncul. Menjadikannya awan lalu kembali hujan, dan begitu seterusnya. Lagi dan lagi berulang.

3 Kota 3 Tokoh 1 Kisah

3 Kota 3 Tokoh 1 Kisah
Oleh : Mieny Angel



Januari

Awan hitam bergantungan di langit luas. Apa mungkin demikian dengan langit tempat kedua sahabatku? Ah, rasanya ingin sekali bertemu keduanya suatu hari nanti. Selama ini aku hanya sempat bertemu dengan Sandi Prayoga, itu pun baru dua kali. Sedang dengan Mieny Angel sekali pun belum pernah. Sebenarnya aku ingin tahu apa si Mieny masih akan cerewet kalau ketemu dengan idolanya, Sandi Prayoga.
Kusibukkan mataku menatap layar komputer, melirik beberapa desain yang mesti aku selesaikan. Belum lama ini Mieny menawarkan desain logo untuk suatu grup, UNSA namanya.

Mieny Angel : MJ….

Ajakan Makan Bersama "Lomba 1000 Kisah Tentang Ibu"



Pagi yang cerah, alhamdulilah aku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara pagi ini. Ku hirup udara yang segar kuat-kuat dan ku hempaskan.

Alhamdulilah Sudah Sembuh


Beberapa hari ini aku tidak ketemu dengannya. Kakak yang baik yang telah banyak mengajari aku tentang kesusahanku.

Cerita Pagi


Semua hari ini libur tapi aku yang cuma seorang buruh harus tetap bekerja untuk mencari tambahan uang demi Mamak Bapak ku.

PURNAMA MALAM


Emoh…emoh. Sambutan sapi dari dalam kandangnya melihat sang pemiliknya menyunggi pakan di atas kepalanya. Dengan berjalan menyeret kakinya, berusaha membawa beban di atas kepalanya.
Bruk…pakan ditaruhnya di depan kandang sapi. Si sapi pun terlihat mondar mandir ingin segera memakannya. Si pemilik sapi itu adalah laki-laki tua yang berumur lebih dari 50 tahun, dia bernama Pak Slamet. Setiap harinya pekerjaannya hanyalah merumput mencari makan untuk sapinya. Tak ada keahlian lain selain ke ladang dan merumput. Dia pun hanyalah Pak Tua yang buta aksara, tak mampu baca tulis. Kondisi tubuhnya terlihat memprihatinkan dengan kaki kiri yang harus diseret bila berjalan. Kondisi itu dialaminya sejak kecil karena kecelakaan, kakinya masuk ke dalam tungku api di rumahnya, sehingga sampai sekarang terlihat tak sempurna ada bekas luka bakarnya. Bahkan antara jari jemarinya lengket.
Tangan kirinya pun terlihat tak sempurna, tak sekuat tangan kanannya. Hanya tangan kanan yang mampu berfungsi dengan baik.
Karena kondisi yang seperti itu banyak tetangga yang tidak suka dan sering mengucilkannya.

Bunda....Aku Menunggu Mu



Kamar itu terlihat sangat rapi. Barang-barang yang ada di dalamnya pun terlihat sangat mewah, dinding kamar dengan cat warna biru langit terlihat nyaman. Jendela kamar sore itu terbuka, ada hawa semilir memasuki ruangan. Di dalam kamar itu terdapat tempat tidur, yang diatasnya terbaring sesosok wanita kira-kira berusia 40tahunan. Tubuhnya terlihat kurus dengan balutan gemis coklat. Tepat disamping ranjang seorang laki-laki berusia 27tahunan duduk bersimpuh sembari tangannya menggenggam tangan wanita yang terpejam matanya di atas ranjang itu.

1/2 Tahun


Malam ini ku rasakan dingin menusuk tubuhku. Badanhu pun terasa sangat letih, tapi kenapa tak jua ku sanggup memejamkan mata. Ku coba terus namun tak bisa mataku terlelap. Entah apa yang sedang menyerang tubuh ku.

Aku hanya berguling kesana kemari diatas tempat tidur, di kamar sederhana ini, yang dah 21 tahun ku tempati.

Semua yang kualami ini terjadi karena kedatangan Beti sejam yang lalu. Entah perasaan dari mana, hatiku sedikit terluka, sedikit ngilu mengdengar semua yang beti ceritakan.

Bukit Indah ( Pengen Motor )


Bukit Indah pukul 05.00 waktu Hp ku. Dingin yang menyelimuti badanku tak menghilangkan semangatku untuk melihat keindahan kota Jogja. Pagi itu habis Subuh aku sempatkan duduk di Puncak Bukit Bintang, perbatasan Gunungkidul Bantul tepatnya di kawasan Hargodumilah, Patuk diatas kota Piyungan.

Walau sudah jam 5 pagi tapi kelap kelip lampu di bawah atau tepatnya kota Jogja masih menyala. Mungkin masih banyak penduduknya yang terlelap tak sedikit juga banyak yang mulai beraktivitas, terlihat dari lampu kelap kelip yang berjalan bagai kunang-kunang. Kelap kelip lampu kendaraan mereka.

Jogja pagi itu di atas Bukit Bintang sungguh cantik. Sejak lahir sampai dewasa ini aku berada di Jogja. Tanah kelahiran tercinta, dengan pemandangan alam yang eksotik. SEjuk jauh dari keramain layaknya kota besar lainnya.

Tiket Promo

Followers