Cerita Pagi


Semua hari ini libur tapi aku yang cuma seorang buruh harus tetap bekerja untuk mencari tambahan uang demi Mamak Bapak ku.

Sehabis mandi aku berpakaian seperti biasanya, kaos warna biru dan mengenakan rok biar terlihat sisi wanitanya. Pagi itu aku yang biasanya tak suka dandan alias make up mencoba untuk sedikit memoles pipi ku, ku usapkan bedak tipis-tipis dikedua pipi ku juga sedikit lipglos tipis dibibir.

Jam dinding menunjukkan pukul 07.30 waktunya aku untuk melangkahkan kaki keluar rumah.

"Pak, Mak Mini berangkat dulu. Assalammualaikum", pamit ku pada orang tua.
"Ya, ngati-ati. Waalaikumsalam", balas mereka.

Bismilah, ku awali langkah pagi ku dengan berdoa.

Pelan-pelan aku melangkahkan kaki ku menuju tempat kerja. Tempat kerjaku tidaklah jauh dari rumah cukup berjalan kaki 10 menit dengan jalan santai di pagi hari. Udara pagi yang segar dan sejuk embun dimana-mana. Karena aku tinggal di Desa yang jauh dari polusi layaknya kota.

"Monggo Bu", sapa ku setiap ketemu orang lewat yang berpapasan di jalan.

Sudah berapa langkah aku jalan tak terhitung tapi aku ngerasa baru berjalan 2 menit saat ada Simbah-simbah menegurku.

"Walah, koe Darmini tho? Lha wes gede tambah mlinir koe Ndok, ayu tenan".

Senyum mekar layaknya bunga-bunga segar pagi itu. Betapa tidak dibilang mlinir ayu, padahal selama ini terasa biasa saja. Atau karena Simbah-simbah jadi mujinya kelewatan Pas. Maunya ada yang memuji terus nih.

"Enggeh Mbah, saking pundi?", sapa ku dengan masih tetap senyum-senyum.

"Seko blonjo, lha sak iki kerjo nang ndi? Kok ra tau ketok?" tanya Mbah Wito lagi.

"Kerjo ten Sompil Mbah, namung buroh kok", jawabku.

"Woalah lapo wes ra nang Negoro?" tanyanya lagi.

"Pon dangu ten ndalem Mbah".

"Wo yo wes gek mangkat ngati-ati", ucapnya sambil berlalu.

Aku pun meneruskan perjalanan ku, masih dengan senyum-senyum sendirian. Aku pikir apa yang membuat diriku beda? Apa karena aku dah dewasa yang Mbah Wito tak pernah ketemu aku yang sudah dewasa? Atau mlinir ayu tadi hanya karena polesan Fanbo dipipiku?

Ya semoga kecantikan itu tetap ada. Memancarnya kecantikan luar dalam.
Semoga aku bisa jadi wanita yang demikian adanya.

Baru beberapa langkah dari tempat ku berjumpa dengan Mbah Wito, aku sudah nyampai depan Warung Mbak Ninik. Warung yang selalu ramai di kunjungi pembeli dari pagi subuh sampai siang jam segini masih tetap ramai. Dan aku paling malas lewat jalan yang ramai orang seperti ini. Karena mereka pasti akan tanya inilah itulah. Dan sebisa mungkin aku jawab dengan tampang semanis mungkin.

Tapi pagi itu mereka bersikap lain. Tak ada pertanyaan ini itu cuma aku tetap heran ada-ada saja yang menyapa ku dengan anehnya.

"Darmini opo daryanti kui?", tanya Mbak Ninik sang empunya warung.

"Darmini niki", padahal jelas aku sama Mbak Ku, Daryanti jelas beda jauh dari umur maupun postur tubuh.

"Lha kok tambah gede sak iki, tambah mlinir tenan. Arak kerjo, gek mangkat kono".

Anggukan kepala sebagai jawaban ku.

Ada apakah dengan pagi ini? Kenapa orang-orang bersikap seolah-olah baru melihat ku. Padahal setiap hari juga aku lewat jalan yang sama jam sama pula cuma mungkin beda baju dan beda tanggal.

Ku pikir apa karena ini tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan juga karena bulan puasa jadi mereka memerdekakan aku?

Tak mungkin juga, entahlah. Langkah ku semakin cepat aku tak mau terlambut masuk kerja karena disana sudah menunggu teman-teman obrolan di dunia maya ku. Ku harap sih mereka tak aneh-aneh melihat aku, karena jujur aku akan malu jika dibilang mlinir ayu atau pun sejenisnya.

Tersenyum, masih ku tersenyum sendiri setiap ingat kejadian pagi itu.

Terimakasih Ya Allah atas segala Nikmat dan anugrah yang telah Engkau beri pada Hamba....semua ini adalah Engkau Yang Punya Ya Allah...

Senyum ku untuk kalian semua ^_^

Wonosari, Agust 26.2010 / 10.21
Cerita Pagi di 17 Agustus 2010,

mlinir = cantik, ayu
negoro = kota Jogja, orang tua simbah-simbah biasa nyebutnya negoro

19 Response to "Cerita Pagi"

  1. posting baru nich....

    Syukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWt kepada kita.... Sukses selalu...

    m.rifqi says:

    Salam ukhuwah...
    dtunggu komentar n kunjungan balikx...

    Nice Blog.

    Deas, Kak Aziz juga Rifqi...makacih yach...

    Ngomong2 pada tau gAk bahasanya apa tuh...?? Kalo pada tau pasti pada ketawa

    hmm.. ini cerpenkah?

    Sony says:

    Merdeka !!! mungkin situ lagi make baju merah putih kali...

    Ivan Axel says:

    Bukan SON? loe gak baca dia pake baju biru....
    tapi celananya yang merah putih... hehehe

    Sony says:

    ah loe VAn... Gokil... orang dia gak pake celana......

    Sapi Duduk....Bisa Cerpen bisa Kismi, cuma komflik tak ada

    Ivan ma Sony salah....pake baju biru gak pake celana panjang cuma pake rok..rok..tauk

    Om Canel says:

    cerita yang keren,, :D
    mantep ;)

    apapun yang telah Alloh berikan, harus kita syukuri.. :)

    budi2610 says:

    Bagus mieny ceritanya.

    dudk manis sambil dengerin cerita sobat nihhh....keren jadi terharuu..

    Taufik says:

    mieny....
    kulo mboten saget boso jawi...
    kulo madosi te google translate ko mboten wonten..
    pripun niki..?/???
    seng tem inggil ko malah ngomangin celana..
    mang mini mboten ngagen To ? hehehe

    CongCot says:

    mieny tinggal daftar disini http://www.simply-linked.com/

    hehehe.........yang gAk bisa bahasa jawa..MInta translet Mz Tufik yach...

    Salam Kenal dariku, nice artikel :D Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin :D

    Wealah...
    Coba ngerti bahasa jawa...
    Father org jawa pi Q gk bisa bahasa jawa...
    Sedih Q...
    (Wealah Father, biasanya juga Bapa'... he he he...)

    bagus...
    5 jempol kuda buat mieny..(hehehehe...)
    sederhana namun banya arti...
    pengen bisa kayak mieny...
    bahasa penulisannya halus bgt...

Posting Komentar

Mini GK author from Gunungkidul, Indonesia

Tiket Promo

Followers