Bukit Indah ( Pengen Motor )


Bukit Indah pukul 05.00 waktu Hp ku. Dingin yang menyelimuti badanku tak menghilangkan semangatku untuk melihat keindahan kota Jogja. Pagi itu habis Subuh aku sempatkan duduk di Puncak Bukit Bintang, perbatasan Gunungkidul Bantul tepatnya di kawasan Hargodumilah, Patuk diatas kota Piyungan.

Walau sudah jam 5 pagi tapi kelap kelip lampu di bawah atau tepatnya kota Jogja masih menyala. Mungkin masih banyak penduduknya yang terlelap tak sedikit juga banyak yang mulai beraktivitas, terlihat dari lampu kelap kelip yang berjalan bagai kunang-kunang. Kelap kelip lampu kendaraan mereka.

Jogja pagi itu di atas Bukit Bintang sungguh cantik. Sejak lahir sampai dewasa ini aku berada di Jogja. Tanah kelahiran tercinta, dengan pemandangan alam yang eksotik. SEjuk jauh dari keramain layaknya kota besar lainnya.

" Zahrah...Zahrah," ku dengar samar-samar suara lelaki memanggil namaku.

" Iya....siapa ya?" ku alihkan pandanganku ke semua arah tapi tak nampak ada orang. Badanku tiba-tiba merinding bukan karena kedinginan tapi mukin karena rasa takut.

" Zahrah...manis...cantik..." Ku dengar lagi dan ku cari arah suara tapi tak ku dapati orang lain selain aku dan kabut tipis.

Suasana Bukit Bintang yang indah dan dingin tiba-tiba berubah jadi seram dan panas.

Tak lama kemudian, " cewek...."
" Cewek....." itu suara Mas Yosan, mengagetkan ku saja.

" Ya ampun...Mas Yosan. Kenapa bikin Zahrah kaget Mas? Zahrah kan takut, " aku agak sedikit kesal karena tingkah Mas Yosan.

" Hem...alah biasanya juga pemberani kok tiba-tiba takut. Kalau takut ngapain kabur sampai sini? SEndirian, jalan kaki lagi. Kalau ada orang jahat gimana?" Mas Yosan terus saja bicara tapi aku hanya diam saja, kayak anak kecil yang lagi dinasehati orang tuanya, karena sudah berbuat salah.

Aku kini tenang karena merasa tak sendiri lagi, menikmati keindahan Jogja tercinta.

Memang benar apa yang dikatakan Mas Yosan, aku datang ketempat ini karena aku kabur. Dan aku juga jalan kaki sampai tempat ini, padahal jarak rumahku dan Bukit Bintang kurang lebih 3 Km.

" Heh...Cewek, kalau ditanya itu jawab. Untung aku tadi sempet liat kamu jalan ke arah sini. Kamu kenapa tho Cah Ayu ?" tanya Mas Yosan dengan logat jawanya.

" Gak ada apa-apa kok Mas. Biasa pengen cari keindahan aja. Liat Jogjaku yang indah. Jogja pagi ini indah ya mAs?" Aku tak mau membahas alasan kepergianku pagi itu.

" Iyo, Jogja Indah tapi sekarang ndak lagi. Soalnya kamu mbesengut, manyun dari tadi," Mas Yosan menirukan raut mukaku.

Ada-ada aja tingkahnya membuatku ketawa.

" Alah gene Cah Ayu bisa ketawa. Mbok dari tadi gitu, kan Bukit Bintangnya juga ikutan senyum. Manis kaya senyum cah ayu."

Mas Yosan. Mas Yosan. Dia adalah Sahabatku yang paling bisa ngertiin aku. Kalau aku ada masalah selalu dia yang bantuin. Kalau aku seneng selalu dia orang yang aku bagi kebahagiaan. Begitu juga sebaliknya dia memperlakukan aku. Tapi untuk masalah ini aku malu untuk bercerita membagi padanya.

" Lho malah Cah Ayu ngalamun lho. Ndak baik itu Cah Ayu. Tadi pagi gak dengerin Khotbah Subuh di Masjid yah?"

Aku jadi ingat apa yang disampaikan Pak Ali Budi dalam ceramahnya tadi pagi. Bahwa Allah Maha Adil, Maha Pengasih dan Penyayang pada setiap umatnya. Dan kita sebagai Hamba-Nya wajib bersyukur atas semua yang telah ada.

Ku lihat Mas Yosan kini duduk di atas motor Vega-Rnya. Kota Jogja sudah tak seperti kunag-kunag lagi. Lampu-lampu pun sudah banyak yang mati. Namun sang surya masih enggan muncul, hanya kilat-kilat cahaya kuning yang nampak.

" Zahrah...kaenapa tho kamu begitu menginginkannya? Sampai mesti ngambeg-ngambegan kaya gini?" Mas Yosan mulai angkat bicara. Dengan tetap duduk diatas motornya dengan kedua tangannya dilipatkan di dada, karena hawa dingin.

Aku tak tahu apa maksud Mas Yosan. Tapi aku berfikir mungkinkah dia tahu sesuatu tentang masalah ini?

" Emang ada apa Mas? Aku baik-baik saja kok."
" Cah Ayu, udahlah nggak usah disembunyikan lagi. Kamu ngambeg begini gara-gara ndak dibeliin motor tho. Ngaku aja," Mas Yosan malah pakai ketawa.

" Lha emang apa urusannya sama Mas?" Aku menutupi rasa maluku karena gengsi melihat Mas Yosan tau apa yang terjadi. Cuma gara-gara motor, aku malu banget. Karena memang sebenarnya aku ngambeg dan kabur ketempat ini karena tidak dibelikan motor seperti teman-temanku yang lain.

" Hem...ndak usah malu. Orang dasarnya kamunya udah malu-maluin."

" Huh dasar. Sampean tuh cowok sok tau," aku mulai agak sedikit emosi karena diledekin terus.

" Hu..ndak gaul. Ngakunya anakl sekolahan, berpendidikan tapi gak dibeliin motor aja mbewek, nangis. Parahnya kabur-kaburan lagi kayak gini."

" Udahlah Mas. cukup. Ngapain juga ngikutin Zahrah kalau cuma mau ngeledek? Nggak penting. Udah jauh-jauh dari aku."

Aku sudah terlalu emosi, karena sebelumnya hatiku sudah kesal tak juga dibelikan motor. Padahal semua temanku sudah punya. Dan orang tuaku dah janji tapi tidak juga ditepati. Hingga akhirnya kekesalanku memuncak sejak ledekan Mas Yosan datang.

" Udah sana pergi. Ngapai nungguin aku?"

" Ye...siapa yang mau nungguin orang egois kaya kamu. Mending juga aku pulang ke rumah atau bantuin Mamak Mu bawain barang ke pasar atau kalau nggak bantuin Bapak Mu di sawah. Kasihan, mereka dah tua.Kalau kamu mah terserah, udah gede gitu."

Tiba-tiba aku teringat waktu kecil saat diajak bantu Mamak di Pasar Hargosari. Waktu itu aku masih SD. teringat juga saat ikut Bapak ke sawah, membajak sawah dan aku naik di atas sapi.

Ya ampun, apa yang telah aku lakukan cuma gara-gara aku pingin motor saja, sampai hatiku melukai orang tuaku. Aku tak mau jadi anak durhaka. Teringat lagi aku akan ceramah-ceramah Pak Ustad Ali Budi di Masjid.

Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini Ya Allah. Mamak Bapak, Zahrah sadar kita cuma keluarga pas-pasan. Tak baik bila aku selalu menuntut. Aku harus belajar berusaha sendiri. Tak terasa pipiku hangat terkena linangan air mata, air mata penyesalanku.

" Duh Cah Ayu. Jangan nangis pagi-pagi. Ndak baik, nanti mataharinya ndak mau muncul."
Tanpa kusadari Mas Yosan dah ada disebelahku.

" Zahrah gak kenapa-kenapa kok Mas. Zahrah cuma nyesel aja, ternyata Zahrah ini bodoh. Cuma gara-gara kepingin motor aja menjadikan Zahra ini jadi anak durhaka. Zahrah nyesel dah buat Mamak Bapak sedih. Zahrah malu sama Mas Yosan."

" Kamu sudar sadar Cah Ayu, syukur alhamdulilah. Akhirnya Allah membukakan pintu hatimu semoga Allah juga membukakan pintu hatimu untuk Ku."

SEjenak ku diam tapi mendengarkan semua perkataan Mas Yosan. Dan kata-kata Mas Yosan yang terakhir membuatku ketawa.

" Apa? Nggak salah dengar aku tadi Mas?

" Lha gimana tho Cah Ayu? Lha bener tho....!!"

Aku terus tertawa. Tapi Mas Yosan tetap bingung seakan-akan dia tak sadar apa yang diucapkannya.

" Mas Yosan cuma mau bilang kamu itu harus bersyukur atas apa yang kamu dapat. Jangan kamu berusaha untuk jadi seperti orang lain."

Kini tawaku memudar demi mendengar Mas Yosan berucap.

" Kamu itu adalah Zahrah anak baik yang di sayang sama semua orang terutama orang tua mu. Kamu pernah janji pada Mas kalau kamu mau jadi anak yang berbakti jadi kamu harus tepati janji itu. Bahagiakan orang tuamu. Buat apa punya motor atau harta yang berlimpah kalau akhirnya kamu jadi anak anak yang durhaka. Jadilah Zahrah yang benar-benar Zahrah asli yang selalu apa adanya, tidak mengikuti gaya orang lain."

Ku dengar, Ku rasa dan ku cerna semua kata-kata Mas Yosan. Tak perlu waktu lama untuk mencerna nasehat itu. Karena semua yang Mas Yosan ucapkan adalah benar. Aku harus jadi diri sendiri yang selalu terima dan akan berusaha sekuat tenaga tanpa harus jadi orang lain.

" Maafkan Zahrah ya Mas. Karena Zahrah dah salah."

" Mas gak masalah kok. Orang itu tempatnya salah dan lupa. Yang terpenting orang tua mu. Jangan kau sakiti hati keduanya."

Aku menangis setiap aku ingat bahwa aku telah melukai hati orang tuaku.

" Zahra malu pada Mas Yosan."
" Kenapa mesti malu? Kamu tidak salah, cuma emosi kamu belum terkendali. Cobalah untuk kontrol emosi mu. Mas juga yakin orang tuamu sudah memaafkan mu."
" Dari mana Mas tahu?"
" Mas tuh orang paling ngerti kamu. Jadi ya tahulah. Orang yang suruh nyariin kamu sampai sini itu orang tuamu."

Aku kaget. Ya Allah betapa aku sangat disayang oleh orang-orang terdekatku, tapi kenapa aku tak pernah menyadarinya.

" Gimana Cah Ayu, masih kepingin motor Cah Ayu?' Mas Yosan ngomong apa sih, buat aku malu.

" Kalau mau, itu ada motor nganggur. Bawa pulang aja, udah siang juga. Tuh matahari dah muncul."

Benar juga. Dan ini waktunya aku sekolah. Kenapa aku masih disini? Motor Mas Yosan boleh juga untuk mengantarku pulang, 10 menit juga nyampai rumah.

" Oke. Montornya ku ambil."
" Eee...orangnya yang punya, juga boleh kok Cah Ayu."
" Lho Mas Yosan itu apa sih?" Aku ketawa geli.
" Ya dari pada gak kesampaian beli motor, mending sama Mas Yosan ajah tar tak anter kemana-mana."

Aku ketawa, Mas Yosan pun ikut ketawa. Memang Mas Yosan adalah sahabat yang paling berharga buat ku. Tapi apa harus aku memilikinya.

" Udah. Urusin ajah perasaan Mas Yosa. Zahrah mau pulang, mau sekolah. Motor Zahra bawa kabur ya Mas."

" Assalammualaikum....da Mas Yosan."

" Waalaikumsalam.....Wah, jangan tinggalin Mas Yosan Cah Ayu."

Aku berlalu sambil tertawa tak ku bermaksud mengajak Mas Yosan pulang. Sengaja mengerjai dia. Hati lu puas bisa mengerjain orang ini.

"Maafkan Zahrah Mas Yosan, Zahra cuma bercanda."

Bukit Indah, aku pasti kan datang lagi dengan senyum ku.

---------------------mieny_angel---------------------------

----Untuk Bapak Mamak, anak mu dah besar.....
ma'afkan semua salah ku-----
Ini untuk kalian....

4 Response to "Bukit Indah ( Pengen Motor )"

  1. wow!!!!!!!!!!!
    bagus juga!
    i like that's !

    Kak Riyan....

    makacih yach dah maen t4 Mieny, sMoga beneran baca dech....

    nama gw Yosan loh.. hahaha

    wau ada Yosan yach... hihi aku dah lama gak ketemu Yosan

Posting Komentar

Mini GK author from Gunungkidul, Indonesia

Tiket Promo

Followers