Kepada Hujan Ku Kirim Rindu


Kepada Hujan Ku Kirim Rindu

Oleh : Mieny Angel


Lagi, hujan membasahi pelataran rumahku. Dari balik kaca jendela aku dapat menyaksikan butiran kristal air yang saling berjatuhan. Bebas, luruh, jatuh meresap ke tanah, menguap jikalau mentari muncul. Menjadikannya awan lalu kembali hujan, dan begitu seterusnya. Lagi dan lagi berulang.


Hujan. Ah, ini sudah tiga hari hujan berturut-turut menamani pagiku. Aku hanya akan menikmati hujan dari balik jendela, saja. Sebab tak mungkin aku berlari menerjangnya di pelataran rumahku. Dalam kenyataannya aku ingin menegadahkan tangan dan membiarkan tubuh ini basah oleh terpaan hujan. Aku ingin seperti itu, tapi tidak. Aku tidak bisa seperti itu, lagi.


Aku adalah gadis pencinta hujan, dulu bahkan sampai detik ini. Hujan akan menghapus air mataku sesegera mungkin. Aku dulu adalah seorang yang lemah, mungkin sampai detik ini. Aku adalah seorang yang selalu kalah diperolok oleh teman-teman sekolahku. Namun keadaan saat itu lebih menguntungkan dari detik ini.


Dan ketika aku menangis, langit pun seakan ikut menangis, mengirimkan hujan untuk menemaniku. Membasuh air mata di pipiku. Aku akan pura-pura bermain hujan untuk menyembunyikan air mataku. Membiarkannya jatuh bersama dengan butiran hujan.


Ah, aku cinta hujan.


Hujan yang dulu dan hujan hari ini masih sama bagiku. Sahabat dalam kesendirianku.


Aku beranjak dari jendela menuju meja riasku. Sebuah foto manis terpampang di dalam bingkai. Dua orang manusia, aku jelas mengenali siapa itu. Seorang pria mengenakan batik merah dan seorang gadis memakai batik coklat, terusan. Pria itu tak lain adalah sahabatku, Januar. Sedang sebelahnya itu adalah aku. Ya, aku ingat dengan jelas itu adalah fotoku dan dia tiga tahun yang lalu. Itulah dimana pertama kali aku dan dia saling jumpa. Lagi, dan lagi-lagi perjumpaan itu ditemani oleh sang hujan.


“Mimin.” Sapanya saat itu.


“Januar. Ini beneran kamu?”


“Kamu pikir?”


Aku tak akan melupakannya. Tak akan. Persahabatanku dengannya memang telah lama tercipta namun baru sekali itu aku dan dia bertatap muka. Kami adalah seorang yang sama-sama mencintai hujan. Entah apa sebabnya, semakin hari hubungan kami makin akrab. Tak jarang jika hujan dating kami akan saling memikirkan dan seakan ada ikatan batin, walau terbentang jarang berpuluh kilo komunikasi kami tetap jalan.


Seperti suatu sore sebelum hari ini, masih Susana hujan dia berSMS padaku : “Kala butir air langit menepuk debu, masihkah kau mengingatku?”


Tak perlu kujawab. Aku tahu maksudmu. Januar aku akan selalu mengingatmu.


Lagi, bingkai foto ku ajak mendekati jendela. Manikmati hujan yang lebat bersama angin yang sedikit ganas. Mengombang-ambingkan pohon mangga di halaman rumahku.


“Januar, kamu tahu gak? Aku lagi bermain bersama bulir air langit, aku bersama hujan.” Kataku lirih sambil menatap hujan dan foto dalam tanganku bergantian. Sementara jari telunjukku mengelus foto dalam bingkai itu.


“Aku rindu kamu Januar. Kita telah lama tak jumpa. Kamu tahu gak? Jika hujan turun, air mataku pun ikut menetes. Entah sejak kapan aku menjadi wanita yang cengeng makin cengeng.” Bulir hangat air mata mulai membasahi pipiku.

Aku ingin sekali detik ini pula aku berlari, memeluk hujan. Andai aku bisa.


Hujan, kenapa aku harus menyimpa rindu padanya?

Hujan, kenapa pula kau menyatukan kami?

Hujan, oh bujan kapan kau mempertemukanku lagi dengannya?

Hujan, aku mencintaimu juga sahabatku.


Secarik kertas kutarik tak lupa tinta kugenggam.


“Januar, aku akan tuliskan sebuah puisi lagi. Satu puisi lagi pagi ini maka genap1095 puisi. Itu berarti 1095 hari, alias tiga tahun.” Ucapku sambil senyum menatap foto.


Setelah pertemuan pertama, tiga tahun yang lalu, aku selalu menuliskan sehari satu puisi. Puisi khusus untuknya. Aku telah berikrar janji pada diriku sendiri dan hujan kalau suatu hari nanti aku dipertemukan dengannya, akan kuserahkan sebendel puisi untuknya. Puisi hujan pengobat rinduku.


Bening Hujan (Mieny Angel)

Hujan kembali menemaniku

Menarik otakku untuk memikirkan tentangmu (lagi)

Dalam tiap bulir tetes hujan yang tumpah

Ada satu pengharapan untukmu

Ku dapat melihat bayanganmu

Pada setiap air yang terjebak di dedaunan

Engkau tersenyum dan melambaikan tangan

Hujan telah menyatu dalam tubuhmu, tubuhku dan kisah kita

Begitu rencana-Nya

Merekatkan jiwa kita lewat hujan



Aku tersenyum puas. Akhirnya 1095 puisi selesai pagi ini. Hujan pun seketika berhenti. Kenapa? Padahal aku masih berharap hujan turun lagi. Aku masih merindukannya.


“Berjanjilan padaku!” kata dia saat pertama kita bertemu.


“Tentang?”


“Rindumu akan kau titipkan pada hujan.” Aku tersenyum, tersipu mendengarnya.


“Berjanjilah kau akan merindukanku!”


“Kenapa kau seyakin itu?”


“Karena aku akan jauh.”


“Kenapa harus bersama hujan aku titip rindu?”


“Karena hujan adalah lem perekat kita.”


“Aku tak akan merindukanmu, Januar.”


“Kau akan merindukanku, Mimin. Hujan akan mengingatkan bahwa ada satu nyawa yang kau rindu. Jauh dalam lubuk hatimu kau akan meronta untuk sebuah kerinduan.”


Benar. Semua perkataan dia saat itu benar. Aku benar merindukan satu nyawa, itu adalah dia, Januar sahabatku. Dan ketika hujan tiba, rindu itu makin mencekik hatiku, kuat.


Andai keadaan tak seperti ini, aku pastikan hari ini aku di dekatnya. Menjemputnya di bandara. Tapi tidak. Maafkan aku, aku tak bias menjemput kepulanganmu dari Perancis seperti janjiku saat pertama kali kita bertemu dan saat perpisahan denganmu tiga tahun yang lalu.



Keadaan kita telah berbeda.


Dia telah menjadi seorang Master desainer handal seperti mimpinya terbang ke Perancis. Sedang aku, andai saja dia tahu. Mungkin sebaiknya dia tak pernah tahu.


Aku bangkit dari jendela. Duduk manis di kursi roda hendak menyaksikan bayangannya di dalam air yang terjebak di daun mangkukan.


Kursi roda ini adalah alasan semuanya. Kukubur semua rinduku padanya. Kecelakaan di pertemuan pertama itu telah membuat dua kakiku lumpuh. Aku tak sanggu menemuinya dalam keadaan seperti ini.


Aku hanya mampu terus merindukannya.


Dan kepada engkau hujan ku titipkan rinduku untuknya. Kirimkan rinduku selalu bersama bulir air langit yang menepuk debu. (MA)



*****



Wonosari, Maret 28.2011 / 22.36

Kepada MJ yang selalu mengingatku lewat hujan

Cerpen ini juga bisa disimak di BuletinSajak

6 Response to "Kepada Hujan Ku Kirim Rindu"

  1. bagus DeX!!! kakak suka !!!

    makacih Kak ^_*

    jangan sering2 maen hujan...ga baek...hheeee
    postingannya bagus...

    saya suka hujan2an

    wahh,,, kk suka ujan"nan dex.. hehe....

    kakak suka??? nanti Adek buatin khusus untuk Kakak

Posting Komentar

Mini GK author from Gunungkidul, Indonesia

Tiket Promo

Followers