PURNAMA MALAM


Emoh…emoh. Sambutan sapi dari dalam kandangnya melihat sang pemiliknya menyunggi pakan di atas kepalanya. Dengan berjalan menyeret kakinya, berusaha membawa beban di atas kepalanya.
Bruk…pakan ditaruhnya di depan kandang sapi. Si sapi pun terlihat mondar mandir ingin segera memakannya. Si pemilik sapi itu adalah laki-laki tua yang berumur lebih dari 50 tahun, dia bernama Pak Slamet. Setiap harinya pekerjaannya hanyalah merumput mencari makan untuk sapinya. Tak ada keahlian lain selain ke ladang dan merumput. Dia pun hanyalah Pak Tua yang buta aksara, tak mampu baca tulis. Kondisi tubuhnya terlihat memprihatinkan dengan kaki kiri yang harus diseret bila berjalan. Kondisi itu dialaminya sejak kecil karena kecelakaan, kakinya masuk ke dalam tungku api di rumahnya, sehingga sampai sekarang terlihat tak sempurna ada bekas luka bakarnya. Bahkan antara jari jemarinya lengket.
Tangan kirinya pun terlihat tak sempurna, tak sekuat tangan kanannya. Hanya tangan kanan yang mampu berfungsi dengan baik.
Karena kondisi yang seperti itu banyak tetangga yang tidak suka dan sering mengucilkannya.
“Woalah…Slamet, Slamet. Udah ngapain kamu disini sana pergi”, itu kata yang sering ia terima jika ingin duduk ngumpul bersama tetangganya.
“Wong pincang, miskin lagi”, Bu Joyo tetangga depan rumah entah mengapa benci banget pada Pak Slamet, padahal Pak Slamet tak pernah sekalipun merepotkan orang kaya itu.
Setiap sore sehabis merumput dan memberi makan sapinya, Pak Slamet mendi. Air hangat telah disiapkan oleh Ulfah, putri kecil Pak Slamet. Karena tanpa air hangat maka tangan Pak Slamet akan kedinginan tak kuat.
Ulfah kecil, itulah kebahagiaan yang dimiliki Pak Slamet. Walau kondisi fisik dan ekonomi sangat memprihatinkan tapi dia selalu semangat demi istri dan Ulfah putri satu-satunya.



“Pak, diminum dulu tehnya”, Ulfah meletakkan segelas teh anget dekat Pak Slamet.
Selepas Sholat Magrib Pak Slamet berkumpul dihalaman rumahnya. Ditemani bulan purnama yang indah terlihat menerangi halaman. Tak ada tempat di dalam gubuk reot itu untuk bercengkrama dengan keluarga selain halaman rumah tanpa atap, hanya langit malam yang menemani.
“Makasih Nduk…”, Pak Slamet menyruput teh pahit yang dibuatkan anaknya. Tak ada gula namun Pak Slamet seakan menikmati minum kopi susu, nikmat terpancar dari wajahnya yang makin cerah setelah meminum teh hangat itu.
“Pak…”, suara Ulfah yang seakan ingin meminta sesuatu pada Bapaknya.
“Apa anakku? Ngomong saja”, sembari masih menikmati tehnya.
“Ulfah pingin setelah lulus SD, nglanjutin SMP Pak, pingin sekolah biar jadi orang pinter”.
Pak Slamet menaruh gelasnya. Lalu menyuruh anaknya mendekatinya, “Sini Nduk…”.
Ulfah mengangguk, berdiri dan menghampiri duduk dipangkuan Bapaknya yang kurus tua itu.
Pak Slamet nyengir tersenyum, yang terlihat bukan gigi yang tertata rapi tapi hanya gusi dan ompongnya.
“Bapak. Aku pengen pinter. Sekolah tinggi mau jadi guru”, rengek Ulfah kecil.
“Iya Nduk, Bapak akan berusaha mencarikan biaya agar kamu bisa sekolah tinggi. Jangan kaya Bapak mu yang buta huruf tidak tahu apa-apa, yang dia tahu hanya merumput. Walau Bapakmu cacat, jalan saja mesti menyeret kakinya, walau Bapak mu tak normal tetap akan memperjuangkan masa depanmu Nduk”.
Betapa girangnya hati Ulfah mendengan semua yang telah dijanjikan Bapaknya.
Pak Slamet berjanji akan menyekolahkan anaknya apapun akan dilakukannya. Kembali Pak Slamet menyeruput tehnya yang tak lagi hangat. Dia bangkit masuk ke dalam bermaksud merebahkan badan sebentar sebelum Isya. Sang istri, Bu Slamet sejak tadi duduk di pintu mengupas kacang tanah untuk dijual besok di pasar.
Si Ulfah masih terlihat asyik dihalaman. Dia tak bermain dengan temannya. Karena tak ada teman di desa itu yang mau berteman dengannya. Teman-teman seusianya selalu saja mengolok-oloknya sebagai anak orang cacat.
“Ayo pergi, jangan ada yang mau temenan sama anak orang cacat”.
“Iya. Ayo pergi. Heh kamu, Bapakmu itu jalan aja pincang”, teman sekolah Ulfah mengolok-oloknya sambil mengikuti cara berjalan Pak Slamet.
“Tidak. Kalian jangan hina Bapak ku. Bagiku Bapak adalah orang normal. Aku tak mau temenan sama orang yang suka menghina”, bela Ulfah dengan linangan air mata.
“Anak orang cacat sama aja anaknya juga cacat. Rabun. Orang bapaknya jalan aja diseret kakinya eh dibilang normal. Rabun ni Ulfah”.
Ha…ha…ha…tawa teman-teman meledek, meremehkan Ulfah.
Ulfah hanya bisa pasrah manangis. Tak punya teman itu sangat menyakitkan apalagi diusiannya yang masih kecil. Ditambah keadaan orang tua yang miskin juga Bapak yang tak normal. Cobaan berat bagi Ulfah.
Untung semua tidak membuatnya putus asa, tapi malah timbul semangat untuk maju, membuktikan siapa bapaknya sesungguhnya. Jasa sang Bapak yang begitu besar. Hingga terciptalah impian suatu kelak Ulfah menjadi guru.
Hinaan-hinaan yang dia terima bukanlah halangan. Bapaknya pernah menasehati agar dia tak menangis,”Sudahlah Ndok, jangan menangis. Bapak mu memang orang cacat tak punya apa-apa. Tapi kamu akan merubah semuanya Ndok. Kamu nanti akan jadi orang sukses, biar Bapak mu ini dianggap sampah asal kamu tidak anakku”. Itu yang dinasehatkan Pak Slamet pada Ulfah sewaktu anaknya nangis pulang sekolah.
Emoh…emoh…sapi kembali bersuara karena ada Ulfah bermain disana. Di malam bermandikan sang rembulan.terlihat ceria diwajah Ulfah mendengar akan sekolah tinggi. Pak Slamet seakan terlelap dalam tidurnya. Padahal Isya sebentar lagikan memanggil.
Pak Slamet tertidur diatas dipannya yang hanya beralaskan tikar tak ada kasur empuk. Karena memang tak ada uang untuk melengkapi perabotan rumah.
“Bapak…Ayo sholat Pak…Sudah isya…”
Ulfah mencoba membangunkan Bapaknya. Tapi Pak Slamet tak juga membuka matanya.
“Pak…”, kini Ulfah membangunkan sambil menggoyang tubuh bapaknya.
“Hah…ada apa?” tiba-tiba Pak Slamet bangun. Dia seperti orang kaget. Ulfah pun kaget dibutnya. Mungkin Pak Slamet tadi bermimpi karena terlihat wajahnya sangat kelelahan.
“Sholat dulu Pak”.
“Iya…Bapak bangun”, Pak slamet mencoba bangun, tapi tiba-tiba bruk…Pak Slamet jatuh, tak mampu berdiri lagi.
“Bapak…”, Ulfah mencoba memapah Pak Slamet.
Mendengar apa yang terjadi Bu Slamet menghampiri ikut memapah Pak Slamet.
“Ya ampun kenapa Pak?” Bu Slamet terlihat cemas.
“Kenapa Bapak Mu Ndok…?”
“Ndak tahu Bu…Bapak tiba-tiba jatuh waktu Ulfah bangunin”, Ulfah mencoba menjeaskan.
“Kaki Ku Bu…Kaki ku tak bisa digerakkan. Kaki yang sebelah kiri nggak ada rasanya Bu…kenapa ini?” Pak Slamet meraba-raba kakinya.
“Innalilahi, astagfirullah ada apa Pak?” Bu Slamet mencoba mencari penjelasan.
Saat itu juga Ulfah menangis sembari memegangi kaki Bapaknya. Apa sebenarnya yang telah terjadi, tak ada yang tahu.
Sejak kejadian itu kaki kiri Pak Slamet benar-benar tak berfungsi. Dulu masih bisa diseret, sekarang sama sekali tak bisa.
Penderitaan itu terus datang menghampiri Pak Slamet. Namun semua tak lantas membuatnya jatuh terpuruk. Sekolah Ulfah pun terus berlanjut. Dengan sisa tenaga yang ada Pak Slamet mengais rejeki guna membiayai sekolah Ulfah. Hari demi hari berganti, tahun demi tahun pun berganti. Pak Slamet bertambah tua dan Ulfah pun sudah dewasa, sudah lulus SMP.
Seperti tahun yang sudah-sudah purnama kembali datang. Halaman masih juga tempat untuk bercengkrama. Namun keadaan berbeda, karena Pak Slamet tak sekuat dulu. Dia benar-benar terlihat makin lemah.
“Anakku, apa pun yang terjadi. Bila Bapak sudah mati kamu tetep harus sekolah. Jadilah anak pintar, capailah cita-citamu Ndok. Jadilah orang yang terpandang, biar tak ada yang meremehkan mu. Walau kamu anak orang lumpuh, kamu bisa menunjukkan kehebatan di balik kelumpuhan Bapak Ndok...”
Ulfah hanya mengangguk-angguk. Dia bangga Bapaknya bicara seperti itu tapi dia juga sedih seakan Bapaknya akan meninggalkan dirinya.
Tanpa berucap pamit Pak Slamet merebahkan tubuhnya di bawah terang purnama. Tubuhnya benar-benar terlihat kurus.
“Bapak….”, Ulfah memeluk Bapaknya sambil berurai air mata.
-------mieny_angel-------

Wonosari, Agus 06.2010

Cerpen ini untuk Lomba dari sang cerpenis bercerita juga diselenggarakan oleh vixxio, semoga Cerpen ini masuk kategori Sang Juara, Novel yang saya inginkan "Magnificent karya aL Dhimas"

20 Response to "PURNAMA MALAM"

  1. Ka Damar says:

    silaturrahmi :D

    Elvin says:

    hmmmm.....de' ni ada kelanjutannya kan,,, pengen liat Ulfah nya sekolah tinggi ^^

    ok deh, aku catat dulu ya. tks lho

    Alhamdulilah....

    Ka Damar Makacih...Silahkan b'Silaturahmi

    Kak Elvin, insyaAllah nanti ada t'Gantung dari Sang Cerpenis b'Cerita...

    Kak Fanny...sang cerpenis yang hobby melancong...makacih ya Kak...

    Anonim says:

    Aank putra dewa mengatakan...
    Tegang bacanya euy.... lanjutin dong jadi penasaran nih.

    akoey says:

    bagus2... moga jadi juara deh, amien.... hehe..

    makacih Kawan2 atas Do'anya......

    siapa says:

    http://www.youtube.com/watch?v=88lMrxcfyHs

    siapa says:

    selalu andalkan YG MAHA ESA.....

    baguss....ceritanya bagus...
    sedikit saran...hati2 dalam pengetikannya..grammarnya masih aktif..coba di cek lagi..contoh.. : teh ===>the datang ====> dating... cek lagi grammarnya ya...

    sundul buat sahabatku.....

    merinding min denger ceritanya....
    ntar kalo ketemu bu JOyo tulung di sampein "jangan sombok kau" dari dhanank.....

    bu Joyo,,, dasar kau,,... tokek racun....

    hehehe,,,,,

    makasih infonya ya, mieny ...
    sudah dibaca cerpennya, semoga
    berhasil ya lombanya ... :)))

    keren

    Anonim says:

    semangat ya buat mieny..oy mien,dari pihak penyelenggara perlombaan ada tema yang wajib diceritain ga?..pesen aku tingkatkan lagi penguasaan bahasa indonesianya,perbanyak baca cerpen/novel dari karya orang lain yar mieny bisa banyak belajar dari si penulis tersebut..hem..Phoe Sotoy nih..hehehe..kaya dewanjuri j..pkoY te2p SEMANGAT'..

    terimakacih kawan semua...dukungan kalian sangat b'Arti....

    Iya ni Dunia Cacat temanya,

    Buat Dhanank....Pak Slamet itu Bapak ku n' Bu Joyo adalah tetangga depan rumah ku

    Putra says:

    SALUT!!!! menyentuh... dan memberikan semangat, memberikan jalan terang hati untuk saling berempati... Makasih slalu memberikan hal baru ya de`... GBU

    wah,,kasian bapaknya Ulfah,,semoga Ulfah dan keluaraga sabar yah ^^..hehe dek,,, endingnya yg baik2 yah,,hihihi oh iya,,di tunggu cerita diriku,,wakwakwak

    Vixxio says:

    Numpang baca sambil jalan-jalan yaa...

    ok sudah dicatat kok namamu. tks ya

    YUpz buat Sang cerpenis ma Vixxio...makacih yach....

Posting Komentar

Mini GK author from Gunungkidul, Indonesia

Tiket Promo

Followers