Jika Kamu Dicuekin Maka Pikniklah



Pernah kesel nggak sih pas kita udah cerita begitu semangat, menggebu bahkan sampai berkuah (baca: muncrat saking antisuasnya) eh orang yang kita ajak bicara justru cuma menanggapi dengan kata "Oh gitu", Lempeng tanpa tanda baca, bahkan wajah tidak beralih dari gawai di tangan.
Pernah, ya?
Gimana rasanya?

Saat-saat seperti itu tuh pingin banget namanya makan sup kepala manusia. Yang jadinya semangat mendadak jadi loyo macem wortel dikukus. Sumpah males banget.

Aku kalau punya temen yang seperti itu langsung tak tinggal. Iyalah, hal paling menyedihkan dalam hidup itu salah satunya adalah jika kita bahagia namun tidak ada satu orang pun tempat untuk berbagi.

Dulu aku sering seperti itu, dicuekin dan semacam dianggap tidak ada. Saat ngomong atau mengeluarkan pendapat cuma dianggap angin lalu. Yakin deh pingin nangis rasanya. Apalagi saat itu akunya lagi dalam kondisi cupu-cupunya. Nggak bisa apa-apa selain hanya pasrah (menerima nasib bahwa nggak ada kawan sejati di dunia ini).

Aku kira yang seperti itu hanya ada di zaman masa lalu. Ternyata zaman sekarang juga masih ada lho.
Entah mereka itu pura-pura nggak peduli atau sengaja menyembunyikan kekaguman dan diam-diam ngiri? Semuanya samar-samar dan hampir serupa.

Aku ya pernah suatu hari diundang untuk bincang netizen dengan MPR RI. Nggak semua orang tuh bisa yang ginian. Dari sekian pendaftar hanya beberapa yang terpilih. Kebetulan yang hadir ada Pak Ketua MPR RI. Menurutku ini sesuatu yang membanggakan (walau sebagian menganggap norak).

Iya sih ketemu pejabat negara bukan berarti kita langsung naik derajat jadi malaikat atau minimal jadi Mantu Presiden, iya memang enggak gitu juga. Tapi kan ini bisa jadi sejarah. Sejarah gaes. Sejarah yang enggak semua orang punya kesempatan sama. setidaknya nanti kalau aku sudah jadi nenek nenek, aku bisa bercerita ke cucu-cucuku bahwa dulu neneknya yang masih tetap anggun diusia tuanya itu pernah keliling-keliling piknik geratis dan jumpa banyak orang penting pada masanya.
Aku kok membayangkan itu jadi bangga sendiri.

Sementara ketika aku bilang itu ke temen-temen, reaksi mereka biasa saja. Duh Gusti, macem mereka itu nggak ada greget. Atau jangan-jangan nggak dong apa itu MPR.
Tapi sejak itu aku malas untuk cerita sama mereka (yang menganggap aku hanya angin lalu), aku lebih memilih untuk temenan sama orang yang sepadan, beuh, yang punya visi misi setidaknya hampir sama: Membuat Duania Damai dengan Piknik.

Maka jangan salahkan aku jika suatu hari aku nggak ngeh lagi sama temen-temen yang dulu menganggap aku hanya angin tanpa perasaan.

Masalahnya kini jika aku purapura nggak ngeh atau memang tidak bisa untuk gabung dengan mereka, mulut mereka yang manis itu selalu sesumbar, "oh iya kamu kan orang sibuk' "Oh iya Mini kan sosialita baru" "Oh Mini kan sudah nggak bisa temenan sama kita" "Mini sombong" "Mini belagu"

Gusti, aku ingin piknik ketempat tempat jauh sampai ke pelosok pelosok ketemu banyak orang agar otak dan hatiku tidak beku dengan kata sombong.
Kabulkan, Tuhan.

2 Response to "Jika Kamu Dicuekin Maka Pikniklah"

  1. Sabar ya Mba Mini. Ceritamu bikin saya pengen bilang I feel you! Sama banget deh mba. Kalo menurutku, org2 yg ga antusias pas kita cerita hal menyenangkan gara2 mereka insekyur atau iri gitu. Tp mungkin juga ada org2 yg ga ekspresif. Tp itu lain ceritanya sih wkwk

    Sabar ya Mba Mini. Ceritamu bikin saya pengen bilang I feel you! Sama banget deh mba. Kalo menurutku, org2 yg ga antusias pas kita cerita hal menyenangkan gara2 mereka insekyur atau iri gitu. Tp mungkin juga ada org2 yg ga ekspresif. Tp itu lain ceritanya sih wkwk

Poskan Komentar

Mini GK author from Gunungkidul, Indonesia

Tiket Promo

Followers