Perempuan dan Safety Riding

Mendengarkan instruksi dan pemanasan
"Kamu itu perempuan. Untuk apa belajar mengendari motor? Sudah bonceng saja."
Beberapa tahun yang lalu saya adalah gadis cupu yang tidak mengerti bagaimana mengendarai motor. Sampai-sampai pernah membuat statment 'aku diciptakan bukan untuk membawa motor namun untuk membonceng'.

Agak sombong? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Masalahnya seiring berkembangnya usia #halah ternyata saya tidak bisa untuk selamanya bergantung kepada orang lain (baca: nebeng setiap saat). Selain karena kurang efisien terlebih kalau teman tebengan berada di arah yang berbeda, juga karena tidak sewaktu-waktu ada teman yang bisa ditebengi.

Okey ada kendaraan umum, bus taxi ojek dan lain sebagainya. Namun masalahnya; Butuh biaya berapa untuk setiap saat memanggil mereka? Belum lagi tidak sewaktu-waktu mereka bisa dipanggil cepat dan juga mau mengantarkan saya ke Gunungkidul.
Atas dilema-dilema yang tiada henti tersebut, maka saya bertekad kuat untuk harus bisa mengendari motor sendiri.
Mio matic dari YAMAHA

Kebetulan di rumah ada beberapa motor (milik sepupu yang atas nama kepemilikan Pak Lik) maka saya minta diajari untuk menggendarinya.
Ada dua motor Yamaha di rumah; Mio dan Vixion.
Sebagai pemula tentu saya memilih untuk belajar mengendari Mio, nggak mungkin saya naik Vixion sementara kaki saya aja masih susah menginjak tanah #eh

Apa boleh buat setelah sekian lama belajar mengendarai motor ternyata saya lebih nyaman memakai motor bebek dibanding motor metic. Meski banyak orang bilang metic lebih asyik untuk perempuan, saya tetep memilih bebek karena hendak memilih vixion itu terasa hanya mimpi.

Maka sejak saya bisa mengendari motor sendiri (meski sering grogi terutama di lampu merah) saya sering bepergian sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Lebih nyaman, cepat dan bisa dikondisikan sesuai kebutuhan. Kapan saja bisa memprediksi sendiri kapan harus ngegas biar tidak telat ke acara-acara *macak sok sibuk*

Orang sering bilang: lebih baik naik kendaraan umum, sambil jalan bisa mengistirahatkan badan, pula bisa mengurangi pencemaran.
Saya tentu setuju dengan pemikiran ini. Saya juga sangat-sangat ingin turut menjaga alam.
Untuk itulah saya sebisa mungkin memakai kendaraan dengan hemat energi dan kalau bisa pas kepepet atau beneran acara penting. Salah satunya adalah acara safety riding bareng Yamaha Riding Academy (YRA) Yogyakarta.

Sebelum kenal YRA, saya hanyalah pemakai kendaraan bermotor yang kurang jelas memahami rambu-rambu keselamatan. Sering gagap di jalanan dan parahnya tidak paham dengan bahaya yang mungkin selama ini mengintai.

kebersamaan KBJ dan YRA

Minggu, 27 November 2016 kemarin saya dan beberapa teman mendapat kesempatan untuk mengikuti banyak kegiatan bareng YRA. Ini adalah pertama kalinya saya ikut acara yang beginian (begituan). Asli sebelumnya belum pernah ada pelatihan atau orang yang mengajak saya mengenal tentang keselamatan berkendara. Saya juga belum pernah main zig-zag di aspal seperti yang diajarkan di YRA. *waktu cari SIM saya tidak melewati zig-zag ini*

Sebelum praktik lapangan (nyicipi motor yang ada tanpa harus beli; dan percayalah ini mengasyikkan) saya dan teman-teman diberi pengarahan; berupa materi dan gambaran berkendara yang baik/ buruk.
Tim (instruktur) YRA yang waktu itu diwakili Mas Dadang memberikan pengantar tentang faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kecelakaan di jalan. Dari pemaparan Mas Dadang setidaknya ada tiga faktor yang menyumbang kecelakaan lalu lintas;

  1.  Kesalahan manusia (human error). Ini merupakan faktor utama dan paling banyak menyebabkan kecelakaan. Biasanya disebabkan oleh kenekatan para manusianya (pengguna kendaraan). Misalnya saja ngantuk atau lelah namun tetap berkendara. Ada juga yang tidak taat para rambu lalu lintas; main trabas lampu merah dan lain sebagainya.
  2.  Kendaraan. Mas Dadang bilang bahwa seorang pengendara haruslah paham/ mengenal karakter dan menguasai kendaraan. Setiap pengendara harus gerak cepat untuk mengetahui karakter tunggangannya. Pengendara harus sering-sering mengecek kondisi motor. Jangan sampai ada kerusakan atau kekurangan atribut dalam motor. Sering-sering melakukan perawatan dan tidak sembarangan merawat motor dengan onderdil yang tidak semestinya.
  3.  Lingkungan atau kondisi jalanan. Ini membuat saya galau sebab jalanan yang saya lalui (Jogja Wonosari) berkontur naik turun dengan tikungan tajam. Saya harus selalu waspada dengan kondisi alam yang seperti ini. Mas Dadang mengingatkan agar jika ada lubang untuk dihindari. Jikalau sudah terpaksa masuk lubang maka motor tidak boleh direm mendadak namun justru harus terus dilajukan karena jika direm mendadak akan membuat ban selip dan akhirnya jatuh. Mas Dadang juga menasehati agar pengendara motor tidak mendahului kendaraan di depannya jika berada di daerah menikung.
Instruktur praktik

Setelah adanya pengantar tersebut, Mas Dadang melanjutkan materi berikutnya tentang safety riding
Berkendara bukan hanya tentang naik motor dengan kecepatan penuh dan cepat sampai tujuan. Namun berkendara adalah sebuah tindakan yang selain harus memikirkan keselamatan sendiri tentu juga memikirkan keselamatan orang lain.

Safety riding terbentuk oleh dua hal: safety mind dan riding skill; digabung jadi safety riding.

Safety mind sendiri terdiri dari safety (keselamatan/ keamanan) dan mind (pikiran/ memperhatikan). Jadi safety minda bisa berarti kesadaran dari pengendara untuk selalu berkendara dengan aman.
Contohnya; sadar bahwa memakai helm itu penting, bahwa taat traffic light itu penting, bahwa mengecek kendaraan sebelum berkendara adalah hal wajib. dan lain sebagainya.

Sedangkan riding skill merupakan teknik/ kemampuan berkendara dengan baik dan benar.
Dijelaskan oleh Mas Dadang mengenai teknik keseimbangan dasar, teknik pengereman, teknik berbelok bahkan diberitahu posisi berkendara yang benar.
Selama ini saya tidak paham jika posisi berkendara yang baik dan benar adalah tegak lurus ke depan dengan kedua tangan seolah-olah membentuk huruf O.

Tadinya saya bertanya-tanya sebaiknya posisi pengendara motor yang baik itu seperti apa?
Mas Dadang menjawab bahwa posisi yang tepat jika berada di jalan raya adalah dengan menghindari daerah blind spot; yaitu daerah-daerah yang biasanya rawan menyebabkan kecelakaan. Cara gampang mengecek apakah posisi kita sudah tepat adalah dengan cara melihat bayangan sopir kendaraan di depan kita dari spion kendaraan di depan kita.

Setelah materi yang lumayan banyak itu, saya dan teman-teman diajak praktik langsung. Ini adalah bagian yang saya tunggu-tunggu; mencoba banyak motor yang tidak ada di rumah dengan gratis dan berpengaman lengkap.
Banyak motor yang disediakan YRA; antara lain Vega untuk motor bebek, Mio dan NMAX untuk matic, juga motor sport MT25 R25 (embuh saya tidak begitu jelas). Yang saya paham ya vega dan mio. Namun saya menyempatkan diri untuk mencoba NMAX.

YANG SEPERTI INI TIDAK BOLEH BAWA MOTOR

NMAX motor metic yang bodinya besar (kadang terlihat menuh-menuhi jalan) padahal sebenarnya motor ini sangat enak dipakai. Perkenalan saya dengan NMAX sebenarnya sudah sejak setahun yang lalu ketika sebut saja #priaberkacamata selalu berbisik bahwa dia menginginkan motor tersebut. Konon katanya motor itu terlihat memukau dan tahan segala cuaca. Well, sejak itu saya jadi ikut-ikutan mengamati motor jenis ini meski pada akhirnya baru bisa kesampaian menjajalnya langsung pas di kandang YRA *kamu sungguh norak sekali, Min*

Sebelum masing-masing praktik, kami sama-sama melakukan pemanasan (di bawah sinar matahari tengah hari), pemanasan semacam senam ringan. Dan instruktur meminta kami untuk gerakan semacam sujud ke aspal (namun tidak sampai menyentuh aspal). Instruktur bilang, "panas? nah seperti itulah kira-kira rasanya jika kita jatuh dari motor. maka berhati-hatilah."

Setiap orang harus melengkapi diri dengan safety gear (sarung tangan, pelindung kaki/ lutut, pelinsung siku/ tangan, juga helm berstandar aman) sebelum menghidupkan motor.
Ada tiga tahapan praktik yang harus kami lalui;
1. chidori
saya sempat jadi bahan ketawa karena saat praktik dengan kelokan yang tidak biasa ini saya justru salah jalur dan harus mengulang. Padahal ini adalah teknik dasar. Tujuan dari praktik ini adalah kemampuan kita untuk menjaga keseimbangan menguasai motor di jalanan menikung dan sempit.

2. slalom
zigzag dengan memanfaatkan gas dan rem. Sebenarnya ini sangat menyenangkan dan gampang. hanya saja kadang ketika terjun di jalan raya sesungguhnya saya grogi dan bisabisa salah antara rem dan gas (ini sangat bahaya). Saya beruntung bisa dilatih oleh instruktur YRA mengenai hal ini.

3. fast breaking
lajukan motormu dengan cepat dan pada jarak tertentu mainkan rem. Ini adalah mengukur/ belajar tentang teknik pengereman. Penting untuk kita yang kadang secara tiba-tiba jalan terhadang oleh penyebrang atau kendaraan lain yang ujug-ujug nyamber di depan kita.


Acara selesai setelah tiga tahap itu terlampaui. Ada juga games dengan hadiah helm seharga Rp 600.000,- namun saya memilih tidak ikut dan hanya jadi tim sorak (terutama tim sorak para pria). Tontonan gratis yang memicu adrenalin. Saya suka saya suka.

Begitu kembali ke rumah, saya masih terngiang dengan NMAX dan motor sport yang tidak bisa saya kuasai. Omong-omong ini vixion di rumah boleh juga dijajal (tentu dengan pengawasan sepupu, jangan sampai njungkel)

Yang bertanya di mana alamat Yamaha Riding Academy Yogyakarta;
jawabnya adalah:
Sayap Barat Stadion Maguwoharjo
IG dan twitter : @yraJogja
Facebook : YRA Jogja

ala ala Umbrella Girl *mumpung ada kesempatan*


3 Response to "Perempuan dan Safety Riding"

  1. Wow, Keren emang kak Mini ini, selain nulis sekarang juga nyambi jadi umbrela girl. Hihi

    Mufid says:

    keren, kaka minii..
    kenapa videonya cuman 09 detiiiik.. huhuhu

    Wkwkwkw mumpung ada kesempatan

Posting Komentar

Mini GK author from Gunungkidul, Indonesia

Tiket Promo

Followers